Sentani, MC KMAN VI – Komunitas Masyarakat Adat Lamtoras Sihaporas yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tanah Batak, datang ke Tanah Tabi-Papua dalam rangka mengikuti Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) VI Tahun 2022 turut memeriahkan Festival Danau Sentani (FDS) melalui penampilan tim budaya mereka.
Tim Budaya AMAN Tanah Batak dari Komunitas Adat Lamtoras Sihaporas menampilkan sebuah tradisi dan ritual memanjatkan doa kepada Sang Pencipta dan seluruh jagad raya melalui perantara bunyi-bunyian gendang yang dikenal dengan sebutan Gondang Tatak, Jumat (28/10) malam di Arena FDS XII di Kawasan Wisata Pantai Kalkothe, Kampung Nolokla, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura.
Salah seorang pelaku ritual, Thomson Ambarita mengatakan mengatakan tradisi ini merupakan tradisi sakral untuk memanjatkan doa permohonan kepada tuhan dan alam semesta melalui perantara bunyi-bunyian gendang dan juga ritual lainnya.
“Ini kita laksanakan nanti pertunjukan secara singkat tradisi yang ada di Tanah Batak, yang kalau kita membunyikan gendang ini itu sebagai alat translate kita untuk memuliakan dan menyampaikan doa kita kepada Tuhan dan alam semesta,” ujar Thomson Ambarita di Arena FDS, Jumat (28/10) malam.
Dalam tradisi ini, kata Thomson, akan dirangkai dengan ritual lain yaitu pembakaran dupa dan jeruk purut di atas cawan putih menggunakan air suci yang disiapkan secara khusus.
“Menurut kepercayaan kami, melalui aroma atau harumnya dupa ini bersama asapnya akan mengantar doa kita kepada Sang Pencipta. Nantinya salah satu dari tokoh adat kami yang akan meminta kepada pemain musiknya memainkan bunyi-bunyian ini sambil melantunkan doa,” katanya menambahkan.
Dikatakan pula, di kampung mereka ritual ini masih terus dilestarikan dan selalu dilaksanakan setiap tahun pada saat-saat tertentu atau juga atas permintaan seseorang untuk dibacakan doa ketika akan melakukan suatu acara yang besar.
Pada umumnya ritual ini dilaksanakan oleh 8 orang, terdiri dari terdiri dari 6 orang pemain gong/gendang, 1 pemain serunai dan 1 pemain hesek.
“Pertujukkan kami ini juga sebagai bentuk penghargaan kami kepada masyarakat Papua khususnya di Tanah Tabi yang sangat ramah menerima kami,” ungkapnya.
Thomson bersyukur bisa ikut dalam tim AMAN ke Papua sehingga sangat membuka wawasan mereka tentang apa dan bagaiamana kehidupan di Papua.
Menurutnya Papua yang selama ini terkesan penuh dengan konflik seperti yang selalu dimunculkan oleh media, tidak terbukti setelah mereka manginjakkan kaki di Papua dan berbaur dengan masyarakatnya.
Thomson yang berbicara mewakili anggota komunitas lainnya mengaku, justru takjub dengan kehidupan di Papua yang menjunjung tinggi kerukunan dan masyarakatnya sangat ramah dengan siapa saja.
Dirinya berjanji akan membawa cerita pengalamannya ini sampai ke kampung halaman, agar mereka juga tahu Papua dan kehidupan masyarakatnya yang sesungguhnya.
Sumber: MC KMANVI Kab. Jayapura